“Ahhh.. Kak, Oooouuuuuhhh..” Husna mengerang, kukunya menggores punggungku.
Pinggulku terus bergerak, naik, turun, menekan, menarik, cepat, mendesak, tanpa jiwa.
“Terus, kak, terus.. Aaahhhh.. Ahhhh..”
Husna mereguk gairah yang sekian lama tertunda. Ini bukan cinta, kami berdua menyadarinya. Hanya pelampiasan atas sesuatu yang terasa belum selesai.
***
Kak, temenin gih.. mati listriknya
Showing posts with label Lily. Show all posts
Showing posts with label Lily. Show all posts
Friday, 9 October 2015
Thursday, 8 October 2015
Husna dan Lily, teman belajarku yang nikmat, eh, yang baik.. 16
Hari-hari berlalu datar sejak momen terakhirku bersama Husna. Aku kembali pada kehidupanku yang biasa. Menjalani studi, menikmati hobi, menggiati kegiatan organisasi dan menemani - ditemani - Lily.
Aku dan Lily tetap bersama. Terkadang kami memang tiba pada saat-saat canggung dan kaku, saat pembicaraan kami tanpa sadar menyinggung Husna. Tetapi hal itu kami lewatkan begitu saja.
Kehidupan
Aku dan Lily tetap bersama. Terkadang kami memang tiba pada saat-saat canggung dan kaku, saat pembicaraan kami tanpa sadar menyinggung Husna. Tetapi hal itu kami lewatkan begitu saja.
Kehidupan
Monday, 5 October 2015
Husna dan Lily, teman belajarku yang nikmat, eh, yang baik.. 14
Apa lawan dari percaya?
Apakah “tidak percaya”?
Bukan, terlalu pungkas. “Tidak percaya” adalah percaya dari sisi berbeda. Tidak percaya, sebuah kepastian. Ringkas, magnitude, mutlak. Case was closed.
Musuh abadi dari percaya adalah sesuatu yang menggantung rendah, menghantui sebagai bayang-bayang. Menunggu, mengganggu, berbisik menghasut dalam kepalamu.
Musuh itu bernama ragu.
***
Pagi
Apakah “tidak percaya”?
Bukan, terlalu pungkas. “Tidak percaya” adalah percaya dari sisi berbeda. Tidak percaya, sebuah kepastian. Ringkas, magnitude, mutlak. Case was closed.
Musuh abadi dari percaya adalah sesuatu yang menggantung rendah, menghantui sebagai bayang-bayang. Menunggu, mengganggu, berbisik menghasut dalam kepalamu.
Musuh itu bernama ragu.
***
Pagi
Husna dan Lily, teman belajarku yang nikmat, eh, yang baik.. 13
Sunyi dan semarak malam, bertabur kilau bintang
Bulan pun naik perlahan, tersipu..
Kau dan aku tenggelam, dalam dekapan cinta
Tanpa suara berbincang, dua jiwa..
Desah napas terdengar lirih, beriringan, dalam pola kacau tidak beraturan. Ritmis, dinamis, indah, terkadang menyakitkan. Kami terlena dalam pejam mata, tangan dan kaki di mana-mana.
Malam selalu indah sejak aku bersama Lily. Seperti
Bulan pun naik perlahan, tersipu..
Kau dan aku tenggelam, dalam dekapan cinta
Tanpa suara berbincang, dua jiwa..
Desah napas terdengar lirih, beriringan, dalam pola kacau tidak beraturan. Ritmis, dinamis, indah, terkadang menyakitkan. Kami terlena dalam pejam mata, tangan dan kaki di mana-mana.
Malam selalu indah sejak aku bersama Lily. Seperti
Husna dan Lily, teman belajarku yang nikmat, eh, yang baik.. 12
Apa yang akan dilakukan pria kebanyakan, ketika diundang ke dalam kamar gadisnya, pada malam hari, saat sedang hanya berdua?
Romantisme di antara kami sedang diuji. Ujiannya datang berupa kesempatan dan sambutan. Berupa rasa kentang dan undangan.
“jagain itu di sini, bukan di luar situ..”
***
Aku tahu apa yang akan menyambutku jika aku merangsek masuk ke kamar Lily saat itu juga. Rangkaian
Romantisme di antara kami sedang diuji. Ujiannya datang berupa kesempatan dan sambutan. Berupa rasa kentang dan undangan.
“jagain itu di sini, bukan di luar situ..”
***
Aku tahu apa yang akan menyambutku jika aku merangsek masuk ke kamar Lily saat itu juga. Rangkaian
Husna dan Lily, teman belajarku yang nikmat, eh, yang baik.. 11
Berlalu sepekan sejak insiden mimisan itu. Kejadian yang menegaskan bahwa aku dan Lily sudah merasa saling memiliki.
Aku tidak jadi melanjutkan malam bersama Lily pada saat itu, sebab teringat motorku yang masih kuparkir serampangan di tepi lapangan sepakbola. Dengan enggan saat itu kami melepas diri masing-masing.
Kedekatan kami yang memang sudah terjalin sebelumnya terasa semakin rapat.
Aku tidak jadi melanjutkan malam bersama Lily pada saat itu, sebab teringat motorku yang masih kuparkir serampangan di tepi lapangan sepakbola. Dengan enggan saat itu kami melepas diri masing-masing.
Kedekatan kami yang memang sudah terjalin sebelumnya terasa semakin rapat.
Sunday, 4 October 2015
Husna dan Lily, teman belajarku yang nikmat, eh, yang baik.. 10
Lily adalah walaupun, bukan karena.
Kedekatanku dimulai dengan banyak kemakluman atas kekurangan satu sama lain, bukan dengan alasan kelebihan diri.
Aku tidak ingat pernah berkata, "aku suka dia karena..," tetapi sebaliknya, aku sering berpikir, "kami tetap bersama, walaupun.."
Kami bertahan dengan banyak walaupun. Walaupun aku lebih muda, walaupun secara fisik dia di luar kriteria. Walaupun
Kedekatanku dimulai dengan banyak kemakluman atas kekurangan satu sama lain, bukan dengan alasan kelebihan diri.
Aku tidak ingat pernah berkata, "aku suka dia karena..," tetapi sebaliknya, aku sering berpikir, "kami tetap bersama, walaupun.."
Kami bertahan dengan banyak walaupun. Walaupun aku lebih muda, walaupun secara fisik dia di luar kriteria. Walaupun
Subscribe to:
Posts (Atom)